Viral Kematian Ikan Massal di Waduk Jatiluhur, Petani Rugi Miliaran Rupiah
Sebuah kejadian yang memicu kekhawatiran di kalangan petani budidaya ikan terjadi di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Lebih dari 100 ton ikan mati secara massal, menimbulkan kerugian miliaran rupiah bagi para pembudidaya. Fenomena ini disebabkan oleh cuaca ekstrem dan upwelling yang menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam air.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) segera turun tangan untuk mengecek penyebab kematian ikan tersebut. Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, Tb Haeru Rahayu, menjelaskan bahwa fenomena kematian massal seperti ini seharusnya tidak terjadi lagi, karena KKP telah memberikan imbauan kepada daerah-daerah yang memiliki perairan umum, termasuk Waduk Jatiluhur.
“Peringatan cuaca ekstrem sudah kami himbau dan tanda-tanda kualitas air tidak bagus juga sudah mulai kelihatan. Kenapa tidak dilakukan panen total atau panen awal sehingga risiko kematian massal dapat dihindari,” ujar Haeru.
Menurut Direktur Ikan Air Tawar Ujang Komarudin, kematian ikan massal di Waduk Jatiluhur mencapai sekitar 100 ton atau senilai Rp 2,2 miliar. Mayoritas jenis ikan yang mati adalah ikan mas, dengan asumsi harga ikan mas saat ini sebesar Rp 22 ribu per kilogram.
Lokasi kejadian kematian massal berada di Kampung Pasir Kole Desa Kutamanah Kecamatan Sukasari dan Kampung Citerbang Desa Panyindangan Kecamatan Sukatani. Ujang mengatakan, mayoritas masyarakat pembudidaya sudah mengetahui adanya cuaca ekstrem dan bahaya upwelling dapat menyebabkan kematian massal ikan budidaya.
Namun banyak di antaranya mereka gambling dan masih menahan panen ikan hasil budidayanya supaya bisa mencapai ukuran yang lebih besar. “KKP merekomendasikan untuk sementara waktu tidak melakukan aktivitas budidaya di Waduk Jatiluhur hingga cuaca kembali normal dan perairan bisa merecovery kondisinya dengan stabil. Segera angkat ikan yang sudah mati dari perairan dan langsung kubur supaya kondisi perairan waduk cepat kembali normal dan tidak tercemar,” kata Ujang.
Beberapa petani mengaku mengalami kerugian besar akibat kematian ikan massal ini. Salah satu pemilik kolam, Nono Supriatna, mengatakan bahwa sekitar 18 ton ikan di kolam jaring apung miliknya mati semua. Kerugian yang dialami Nono mencapai sekitar Rp 400 juta. Namun menurutnya kerugian ini lebih kecil jika dibandingkan mati massal itu terjadi saat masa panen.
“Kerugian sekitar Rp 400 juta, kalau udah masuk masa panen bisa lebih banyak kerugiannya. Apalagi yang lain nggak tanam, hanya di zona 5 yang tanam. Jadi kalau pas panen harga jual pasti mahal, ya sekarang dikasih aja ke warga buat bikin ikan asin atau apa,” ungkap Nono.
Warga sekitar langsung berbondong-bondong mendekati perahu, mereka membawa berbagai wadah seperti plastik besar, karung, ember hingga wadah yang bisa menampung ikan lebih banyak. Mereka bergantian menaiki perahu. Sebab jika terlalu penuh, khawatir perahu terbalik dan membuat warga jatuh ke Danau Jatiluhur.
“Di grup, siapa yang butuh ikan datang ke sini. Iya ikan mati, tapi kebanyakan yang masih seger, bisa juga buat olah pepes. Ini ngambil dua kantong kresek yang gede-gede, ada 20 kilo-an mah,” ungkap Ida sambil memuat ikan ke sepeda motornya.
Kematian ikan massal di Waduk Jatiluhur menjadi perhatian serius bagi KKP dan masyarakat sekitar. Upaya pencegahan dan pengendalian kematian massal telah dilakukan, tetapi dampaknya tetap sangat besar bagi para petani. Diharapkan, dengan langkah-langkah antisipatif dan pengelolaan yang lebih baik, kejadian serupa tidak terulang kembali.
![]()