Sebuah video yang menampilkan aksi arogan oknum TNI terhadap seorang juru parkir disabilitas di Jl. Gegerkalong, Kota Bandung, kini tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Aksi tersebut dilakukan oleh pria yang diduga sebagai anggota TNI dan memicu kemarahan warga setempat.
Kejadian berawal pada Minggu (20/8/2023) saat seorang pria bercelana loreng dan jaket biru tua mendekati juru parkir yang sedang bekerja di jalan raya yang padat. Dalam video yang diunggah oleh Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni, pria tersebut tampak menantang juru parkir dengan wajah marah. Setelah melepas helm, ia langsung memukul kepala juru parkir menggunakan tangan kanannya.
Pukulan tersebut sangat keras hingga suara pukulan terdengar jelas dalam video. Pelaku kemudian mendekati korban dan menantangnya. Juru parkir tersebut mencoba menjelaskan situasi, namun aksi pelaku tidak berhenti. Warga yang melihat kejadian itu pun mencoba melerai, tetapi pelaku tetap emosi.
Komentar warga terhadap aksi tersebut sangat pedas. Beberapa dari mereka menyampaikan kekecewaan terhadap perilaku aparat negara yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat. Salah satu warga teriak, “TNI kok bukannya ngelindungin rakyat, malah menghajar rakyat.”
Video tersebut juga menunjukkan reaksi emosional dari seorang wanita yang menyaksikan kejadian itu. Ia mengucapkan, “Eh, Astagfirullah! Viralin, viralin, viralin, viralin.” Ucapan ini menunjukkan betapa kaget dan marahnya warga terhadap tindakan oknum TNI tersebut.

Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar tentang pengawasan dan disiplin di lingkungan TNI. Sebagai institusi yang bertugas menjaga keamanan dan kedaulatan negara, aksi seperti ini dapat merusak citra dan kepercayaan publik terhadap TNI. Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) atau pejabat tinggi TNI harus segera menindaklanjuti laporan ini untuk memberikan sanksi yang sesuai.
![]()
Selain itu, kasus ini juga mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat akan hak-hak dasar setiap individu, termasuk para disabilitas. Juru parkir disabilitas memiliki hak untuk bekerja dan diperlakukan secara adil. Aksi arogan seperti ini tidak hanya melanggar aturan hukum, tetapi juga melanggar prinsip etika dan kemanusiaan.
Dampak dari insiden ini sangat signifikan. Selain merusak citra TNI, aksi ini juga bisa memicu ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga militer. Masyarakat mengharapkan TNI lebih proaktif dalam menegakkan hukum dan melindungi rakyat, bukan justru menjadi pelaku kekerasan.
Penyidik dan aparat hukum harus segera menindaklanjuti laporan ini. Proses hukum yang transparan dan adil diperlukan untuk menegaskan bahwa tidak ada yang di atas hukum, termasuk oknum TNI yang melakukan tindakan tidak sesuai dengan kode etik dan peraturan yang berlaku.
Pihak TNI dan Polri juga perlu meningkatkan pengawasan terhadap anggotanya. Sanksi tegas terhadap pelaku kekerasan atau pelanggaran disiplin harus diberikan agar menjadi contoh bagi yang lain. Dengan demikian, TNI dapat menjaga reputasinya sebagai institusi yang profesional dan bertanggung jawab.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa semua pihak, baik aparat maupun masyarakat, harus saling menjaga dan menghormati hak-hak serta kewajiban masing-masing. Tidak ada alasan untuk mengabaikan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan, terlebih jika pelakunya adalah aparat negara.